🕯 Lampu Malam | 12 Juni 2025
Hari libur yang awalnya ingin kuisi dengan bermalas-malasan, malah berubah jadi hari yang padat... dan penuh rasa.
Pagi-pagi aku dibangunin Jihan jam 7. Awalnya kesel, jujur aja. Tapi ya, di balik rasa kesal itu, aku bisa lihat satu hal—dia peduli. Dia pengin ketemu, dan merasa kalau aku terlihat males-malesan, maka dia perlu mendorongku dikit. Niatnya mungkin bukan sempurna, tapi aku lihat usahanya.
Uniknya, bangun pagi malah bikin hariku lebih hangat. Aku jadi bisa komunikasi sama Dhila lebih awal. Bahkan sempat teleponan dari jam 8 sampai 9. Kami ngobrol soal attachment issue-nya dia, podcast yang baru dia dengerin, anak-anaknya, kerjaannya... dan semua itu sambil dia nyatok rambutnya. Hahaha. Aku kangen banget sama suaranya, dan pagi itu sungguh menyenangkan. Ada rasa tenteram yang muncul cuma karena denger suaranya.
Setelah itu, ayah nelpon juga—pakai nomor Ais. Obrolan kami ringan, seputar kabar dan kerjaan. Tapi rasanya berarti. Kadang hal sederhana seperti ditanya "lancar gak kerjanya?" bisa bikin aku merasa dilihat.
Siangnya, aku akhirnya mandi dan siap-siap karena udah janjian ketemu Jihan. Kami nonton bioskop, makan di luar, dan menghabiskan waktu bersama di apartemen.
Sudah lama sekali aku gak merasakan sentuhan selembut itu. Di lift, waktu mau nonton, dia peluk aku. Di bioskop, sempat saling berciuman. Dan di apartemen... kami tidur bersama. Pengalaman itu luar biasa—ada kelembutan, lalu ada gairah yang makin kuat. Terakhir kali aku begitu... mungkin 2018. Dan rasanya? Nikmat, jujur aja. Ada sisi diriku yang lama terpendam akhirnya muncul lagi. Bukan soal seks semata, tapi soal keintiman, soal kehadiran, soal diizinkan untuk merasa dan menyentuh. Kami berdua capek, tapi gak ngitung apa-apa. Dan itu pun terasa cukup.
Malamnya aku mengantar dia pulang, dan sekarang di sini—menulis lagi. Menulis kemarin yang sempat terlewat, dan menulis hari ini. Puas. Itu kata yang tepat u
ntuk hari ini.
Comments
Post a Comment