πŸ•― Lampu Malam | 15 Juni 2025

 Bangun jam 7, tapi kayak udah jadi template: males-malesan sampai jam 10. Kadang bukan karena ngantuk, tapi karena belum ada energi buat menyambut hari. Baru gerak setelah itu, dan pagi ini bikin seblak versi nyeleneh—dicampur spaghetti. Hahaha. Rasanya? Gak penting. Tapi ada kesenangan kecil dari kombinasi absurd yang bikin perut kenyang.


Masuk kerja siang. Suasana rame, tapi aku merasa kayak bayangan di antara lalu-lalang. Hadir, tapi gak merasa penting. Hari ini bukan soal kerjaan, tapi soal apa yang terjadi di luar pekerjaan.


Malamnya, aku dapat curhatan dari teman lama—suara yang mulai kehilangan dirinya sendiri. Tentang pernikahan yang dia rasa salah langkah. Tentang tubuhnya yang bahkan gak bisa “menyala” di ranjang. Tentang ekspektasi yang gak ketemu realita. Tentang perasaan terjebak dalam keputusan yang harusnya membahagiakan, tapi malah menyesakkan.


Dari semua yang dia bilang, yang paling kerasa adalah… dia kehilangan harapan. Hilang arah. Dan saat seseorang kehilangan harapan, semua pintu terlihat tertutup, bahkan yang masih terbuka pun gak lagi menarik. Aku gak bisa kasih solusi instan. Tapi aku coba bicara sebagai seseorang yang pernah merasa hilang juga. Aku bilang, kalau semua ini masih berlangsung, mungkin belum saatnya menyerah. Kadang, justru di titik paling sakit, kita bisa jujur ke diri sendiri.


Hari ini bukan hari yang penuh semangat. Tapi aku tetap nulis. Bukan karena wajib, tapi karena aku tahu ini bagian dari prosesku—untuk berkembang, untuk bertahan, dan untuk terus jujur ke diri sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

πŸ•―️ Lampu Malam | 23 Juni 2025

πŸ•― Lampu Malam | 18 Juni 2025

πŸ•― Lampu Malam | 21 Juni 2025