🕯️ Lampu Malam | 7 Juni 2025

Malam yang Ingin Aku Simpan

Hari ini mulai dengan rumah yang sepi, cuma aku dan kucing-kucing. Bangun jam 7, terus malah ketiduran lagi karena suasana terlalu tenang. Kerja masuk jam 9, tapi masih sempet kasih makan si bocil-bocil berbulu. Sisanya bisa aku urus nanti pas pulang.


Siang-siang sempat dimarahin di kerjaan. Memang salahku juga sih… minta break tanpa liat sekitar, padahal anak-anak lagi ribet dan manager lihat. Waktu istirahat sebenarnya hak, tapi kadang situasi bikin itu jadi rumit. Mungkin aku juga kurang peka, tapi ya udahlah. Marah kecil yang jadi pengingat juga: jangan asal minta hak, tanpa lihat kebutuhan orang lain. Tapi tetep, aku punya rasa jengkel kecil itu, dan aku terima.


Tapi malamnya...

Malamnya lain cerita. Malam ini, Bandung habis diguyur hujan. Udara dingin, perut kosong, dan hati sedikit ingin ditemani. Aku mandi, lalu rebus mie hangat sambil chatting sama Dhila. Aku tahu ini malam terakhir dia di Bandung, dan aku... masih pengen ketemu.


Awalnya cuma ngajak ngopi. Tapi dia bilang, “Kamu kan belum makan.”

Dari situ, aku putuskan: ngajak dia nemenin aku makan. Makan malam yang mungkin terdengar biasa, tapi buatku… spesial. Kami ketemu dan makan sate asin ibu ngantuk di dekat Unpar. Suasananya santai, hangat, dan banyak obrolan.


Ngomongin kerjaan dia, cerita-cerita, aku nanya-nanya dan dia pun terbuka. Aku suka lihat dia cerita dengan ekspresi yang hidup. Dia potong rambut, sekarang sebahu, dan... cocok banget. Manis, ringan, dan seger. Aku seneng liatnya. Tapi juga agak sedih, karena besok dia balik ke Jakarta.


Kalau mau ketemu lagi, harus aku yang ke sana.

Dan aku? Aku pengen. Karena Dhila menyenangkan. Dia membuatku nyaman. Cara dia ngerespon, caranya hadir, dan suasana yang dia bawa... bikin aku baper.


Makan malam, ngobrol, dan momen kecil ini... semuanya pengen aku simpan baik-baik.

Comments

Popular posts from this blog

🕯️ Lampu Malam | 23 Juni 2025

🕯 Lampu Malam | 18 Juni 2025

🕯 Lampu Malam | 21 Juni 2025