🕯️ Lampu Malam | 8 Juni 2025

Judul: Lupa Sepatu, Ramai Meja, dan Satu Nama di Kepala


Hari ini aku bangun gak terlalu pagi, sekitar jam 8 atau 9. Masih malas-malasan, padahal kerja masuk jam 1. Tapi yang bikin panik bukan soal kesiangan kerja—aku lupa kalau harus ambil sepatu kerja baru yang dibeli pakai akun Shopee adekku.


Aku baru keinget pas lagi mandi, dan langsung buru-buru ke tempat pengambilan. Untungnya masih kurang dari 5 menit sebelum jam istirahat, jadi masih bisa aku ambil. Absurd tapi lega—kadang hidup kasih momen selamat kecil kayak gitu.


Setelah itu langsung kerja, dan ternyata hari ini rame banget. Aku yang masuk jam 1, baru bisa istirahat jam 5 sore, padahal biasanya jam 3 udah bisa rehat. Di sela-sela kerja, aku dikasih saran buat gak sradak-sruduk. Katanya, aku terlalu tergesa-gesa, jadi kurang fokus, berantakan, dan malah bikin kerja dua kali.

Iya sih... kadang semangatku tinggi, tapi gak dibarengin dengan ketenangan.


Shift malam ini closing, dan ternyata Senin nanti aku masuk pagi. Jumping shift. Rasanya... yah, sial. Tapi ya udah, dijalanin aja. Mau gimana lagi.


Tapi di antara semua capek dan suntuk itu, ada satu hal yang bikin aku senyum sendiri:

Akhirnya aku punya nomor Dhila.


Hari ini dia balik ke Jakarta. Sedih juga sih, karena itu artinya kami gak akan ketemu lagi dalam waktu dekat. Tapi kami tetap chatting—mulai dari aku bangun, sebelum kerja, sampai waktu break. Waktu pulang gak sempat, mungkin dia kecapekan di travel, perjalanan yang dia sendiri gak terlalu suka.


Tapi dari semua yang kami obrolin, dari cerita dia tentang kerjaan sampai hal-hal ringan, aku ngerasa… senang. Karena bisa nyambung. Karena bisa ngobrol banyak. Karena... entah kenapa, Dhila menyenangkan dan bikin nyaman.


Dan di tengah bar yang ramai, pesanan yang gak habis-habis, suara mesin kopi dan panggilan order—ada satu nama yang diam-diam tetap terlintas di kepala.

Comments

Popular posts from this blog

🕯️ Lampu Malam | 23 Juni 2025

🕯 Lampu Malam | 18 Juni 2025

🕯 Lampu Malam | 21 Juni 2025